Kisah Hero Miya : Sang Harapan Terakhir Bangsa Elf - Teh90blog

Kisah Hero Miya : Sang Harapan Terakhir Bangsa Elf

Bangsa Elf merupakan bangsa yang memiliki umur yang sangat panjang, walaupun sebenarnya tubuh mereka sangat rentan dan tidak abadi seperti layaknya bangsa lain yang ada di Land Of Dawn. Sepanjang sejarah, bangsa Elf yang lembut dan rentan ini mengalami penderitaan yang begitu panjang. Bangsa Elf berulang kali tertindas oleh adanya perang, satu per satu rakyat dari bangsa Elf terus beguguran dalam peperangan.

Walaupun harus hidup dalam penderitaan, bangsa Elf bukanlah bangsa yang mudah menyerah. Mereka masih tetap hidup dan bertahan di Azrya Woodlands yang kini menjadi tempat tinggal tetap mereka. Di lingkungan inilah Miya terlahir untuk memulai perjalanan hidupnya.

Lahir di penghujung era yang penuh dengan perselisihan, Miya menyaksikan berbagai tragedi buruk yang menimpa bangsa Elf dalam peperangan. Miya merupakan salah satu bangsa Elf yang mengikuti Moon Goddes, dan kemudian menjalani perang benua kedua dengan para manusia. Miya juga merupakan saksi mata atas perubahan kaumnya yang menjadi Dark Elf setelah Abbys merusak dan mencemari Shadow Swamp.

Sedih akan nasib kaumnya akibat luka perang, Miya mulai berharap akan suatu kehidupan yang damai, kehidupan yang jauh dari perang dan kekacauan yang selama ini ia dan bangsa Elf terima. Moon Goddes yang mendengar harapan Miya tersebut akhirnya mulai memberikan pertolongan. Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Moon Goddes menciptakan Lunar Aegis yang melindungi seluruh Elf di Arzya Woodlands dan membuat mereka dapat berkembang di bawah perlindungan Lunar Aegis.

Setelah mengeluarkan seluruh kekuatannya, Moon Goddes langsung jatuh dalam tidur yang lelap. Miya yang mulai khawatir dengan keadaan Moon Goddes tersebut akhirnya menjadi pendeta di Lunar Temple untuk berdoa. Dengan penuh kesetiannya, Miya berdoa selama beribu-ribu tahun lamanya untuk kebangkitan sang Moon Goddes bahwa suatu saat ia akan dapat melindungi kaum Elf lagi untuk selamanya.

Akan tetapi, era kedamaian Miya di masa tersebut akhirnya mulai berakhir. Dengan terus meluasnya wilayah Abbys dan para iblis, peperangan akhirnya kembali menyelimuti Land Of Dawn. Para iblis yang mulai melakukan invasi ke wilayah manusia akhirnya memicu konflik yang besar, peperangan antara manusia dengan para Abbysal Demon pun tak terelakkan. Pada awal perang, Miya dan para Elf sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apapun dengan perang tersebut dikarenakan bangsa Elf tidak memihak manusia maupun iblis.

Namun, ketika perang tersebut mulai meluas, mulai timbul perselisihan di antara bangsa Elf mengenai sikap mereka terhadap perang tersebut. Golongan yang dipimpin oleh Elf King, Estes, percaya bahwa Abbys yang jahat akan membawa malapetaka ke seluruh benua, dan para Elf harus berinisiatif untuk menghancurkan iblis tersebut.

Banyak Elf lainnya mempercayai bahwa rakyat mereka telah cukup mengalami penderitaan, dan tidak seharusnya untuk kembali ikut berperang. Pilihan yang terbaik bagi mereka saat itu adalah hidup dengan aman dan damai di Azrya Woodlands di bawah perlindungan Lunar Aegis dari Moon Goddes. Apa yang tidak dimengerti oleh Estes adalah bahwa saudaranya, Miya berada di sisi lain dalam konflik internal ini. Meskipun dia mencintai kedamaian, Miya masih mengingat perintah terakhir dari Moon Goddes untuk melindungi rakyatnya tanpa memperdulikan apapun yang terjadi. Maka dari itu, Miya tidak ingin melihat nyawa kaum Elf dikorbankan dalam nama kebenaran.

Pada akhirnya, mayoritas kaum Elf memilih untuk melindungi Arzya Woodlands, tetapi apa yang tidak mereka ketahui adalah mereka sedang mengundang sebuah malapetaka lainnya. Para pasukan iblis yang berencana menyerang Moniyan Empire melewati Lantis Mountains, tiba-tiba merubah rencananya dan pergi dari Shadow Swamp, menyerang Moniyan Plains dari Moonlight Forest yang merupakan tempat kediaman Bangsa Elf. Lunar Aegis yang melindungi tempat tersebut pada dasarnya memiliki kekuatan untuk mencegah meluasnya pencemaran dan kerusakan di daerah mereka, tetapi tidak dapat menghentikan pasukan iblis yang begitu kuat.

Di hadapan invasi pasukan iblis yang datang secara tiba-tiba, para Elf memberikan perlawanan mereka secara gigih. Namun ternyata kekuatan pasukan iblis yang kala itu dipimpin oleh King of Fire Demon, Thamuz masih terlalu kuat untuk dihadapi oleh bangsa Elf. Thamuz membakar habis Tree Of Life yang merupakan pusat tempat tinggal bagi para Elf. Alhasil, bangsa Elf kembali kalah dan mengalami luka penderitaan dari perang yang sudah beribu-ribu tahun hilang.

Miya menyalahkan dirinya atas tragedi yang menimpa bangsa Elf tersebut. Dia ingin melindungi rakyatnya dengan menghindari perang, tetapi keputusannya berujung pada pengorbanan nyawa yang lebih banyak. Akhirnya, ia kembali berdoa siang dan malam di Lunar Temple, berharap bahwa Moon Goddes dapat memberikannya pencerahan dan bimbingan dalam masa depan yang penuh dengan kesulitan.

Sayangnya, Moon Goddes yang masih tertidur tak kunjung memberi Miya bantuan ataupun pencerahan apapun, cahaya dari Moonlight Forest menjadi semakin redup seiring berjalannya waktu. Estes dan beberapa Elf lainnya mulai melemah akibat energi bulan yang kian memudar. Di tempat lain, para Orc dan iblis yang dipimpin oleh Balmond berkumpul di Stormeye Wastelands. Kali ini target serangan mereka bukanlah Moniyan Empire, melainkan Moonlight Forest yang merupakan wilayah bangsa Elf.

Dengan Moon Goddes yang masih tertidur lelap, dan dengan kekuatan Estes yang kian melemah, Miya tidak memiliki pilihan. Siap atau tidak, dia harus kembali menghadapi peperangan yang telah lama melukainya. Miya kini terpaksa menanggung beban Priestess of the Moon dan memimpin rakyatnya untuk melindungi negeri mereka.

Suara dari gendang Orc telah berkumandang, pasukan Moonlight Forest juga telah meniupkan terompetnya yang suaranya bahkan telah tak terdengar selama ribuan tahun lamanya. Dengan begitu, perang akhirnya dimulai. Miya, Priestess of the Moon mengambil panah peraknya, dan bergabung dengan rakyatnya dalam perang di bawah sinar rembulan sembari berdoa.

"Moon Goddes yang agung, jika perang kembali datang ke negeri ini, maka pengorbanan tak dapat dihindarkan lagi. Mohon berikan aku kekuatan, keberanian, dan keyakinan untuk melindungi rakyat dan negeri ini."
~tamat~

Amanat Cerita

Kisah Miya dalam game Mobile Legends mengajarkan kepada kita bahwa keputusan yang sulit harus kita perjuangkan selama hasil dari keputusan tersebut demi kepentingan orang banyak. Keraguan Miya untuk melindungi penderitaan bangsa Elf dengan menghindari perang merupakan salah satu alasan yang menyebabkan bangsa Elf harus kembali menelan kekalahan atas bangsa iblis.

Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari kisah Miya adalah jangan terlalu menggantungkan bantuan dari orang lain ketika sedang tertimpa musibah. Bangsa Elf yang terlalu menggantungkan perlindungannya kepada Lunar Aegis dari Moon Goddes akhirnya harus mengalami kekalahan setelah pasukan iblis yang dipimpin oleh Thamuz ternyata dapat melewati pelindung itu dengan mudah.

Penutup

Oke mungkin itu saja postingan saya kali ini terkait kisah dari hero Miya dalam game Mobile Legends. Bagaimana nih? Tertarik dengan kisah hero Mobile Legends lainnya? Kunjungi terus teh90blog.com karena blog ini akan secara aktif memberikan postingan terbaru terkait game Mobile Legends.

Jika ada kritik atau saran dari kalian sebagai pembaca silahkan langsung tulis saja di kolom komentar di bawah atau tulis di menu Contact Us.
Terima kasih

2 Responses to "Kisah Hero Miya : Sang Harapan Terakhir Bangsa Elf"

*Berkomentarlah sesuai dengan isi postingan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel