My Memory : My First Novel - Teh90blog

My Memory : My First Novel

My Memory adalah novel pertama buatanku, kutulis saat akan lulus dari SMA. Ceritanya tak lebih dari kehidupan SMA pada umumnya, but there's something special in my story that i can't forget it.

Ceritanya akan kubuat bersambung, sambungannya akan saya upload setiap seminggu sekali. Mohon maaf jika novel ini masih berantakan, maklum baru pertama kali bikin novel :v

Jika ada yang ingin memberi kritik dan saran, silahkan tulis di kolom komentar.

Oke mungkin itu saja pesan dari saya.
Selamat membaca :)

My Memory

Rutinitas

Mentari tampak menyembul di ufuk timur, cerah, terang, menembus tebalnya kabut. Suara tetes embun mulai terdengar, kicauan burung menyaut, mengusir sepi, menyambut pagi. Dari kejauhan tampak Mbok Dinem, penjual bubur yang telah menjadi langgananku selama 3 tahun terakhir, mengayuh sepeda itu perlahan menuju rumahku.

"Bubur! Bubur!" teriaknya sembari mengayuh sepeda tua itu dengan gerobak di belakangnya, berbagai kantung plastik di samping gerobaknya kadang bergoyang, mengikuti hembusan angin. Sesekali mbok Dinem meniti sepedanya, untuk mengusap wajahnya yang penuh keringat itu dengan kain serbet yang ada di lehernya.

"Tumbas Dhe" Teriak Ibuku dari dalam rumah, seketika itu juga Mbok Dinem langsung berhenti, plastik yang menutupi dagangannya pun ia buka, berbagai aroma masakan mulai tercium, menyusul langkahku dan Ibuku yang mulai mendekati Mbok Dinem. Setibanya disana, aroma gorengan mulai menarik perhatianku, aromanya seakan memaksaku untuk memakannya.

"Gek jupuk, ngko men dibayar Ibumu" Ucap Mbok Dinem sembari mengulurkan plastik bening kearahku, ucapnya mempersilahkanku untuk mengambil beberapa gorengan agar nanti Ibuku yang membayarnya. Tanpa pikir lagi, tanganku langsung maju, menyerbu kearah tumpukan tempe goreng yang masih hangat. Namun, belum sempat aku mengambilnya, pundakku mulai terasa hangat, tampak tangan Ibuku menepuk pundakku dengan lembut.

"2 ewu wae, rasah akeh-akeh, ndak jerawaten." Ucap Ibuku yang seakan memberi batasan padaku agar tidak mengambil gorengan terlalu banyak, takut jerawatan. Senyum yang terlukis di wajahnya membuatku sadar akan pesannya, bahwa segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Hal itu juga berlaku pada makanan, ambil sesuai porsi, harus habis dalam sekali makan. Begitulah ajarannya.

Aku akhirnya puas dengan membawa pulang empat tempe goreng hangat dengan tiga ungkusan bubur. 1 ungkusan bubur dan 2 tempe goreng untuk adikku, 1 ungkusan bubur untuk Ibuku, dan sisanya untukku, begitulah pembagiannya. Ibuku tak menyukai gorengan dari dulu, sudah beberapa kali kutawari, namun ia kerap menolaknya.

Setelah sarapan dan mandi, aku langsung bergegas untuk berangkat sekolah, sepasang seragam kukenakan, tas penuh buku kugendong, segera kupercepat langkahku ke garasi untuk memanasi mesin motorku, Ibuku yang mendengar aku memanasi motor kadang langsung menyodorkan uang saku kepadaku, "ati-ati ng dalan" begitulah pesannya padaku. Kubalas dengan anggukan.

Perjalananku ke sekolah tak begitu lama, karena jaraknya yang tak terlalu jauh, tentu saja. Alasan itulah yang membuatku tak pernah berangkat pagi, selalu mepet, kadang ngaret. Kebiasaan itu ditiru oleh temanku, Hendra, Ambon panggilannya. Dia beralasan berangkat siang agar memiliki teman ketika jalan ke kelas. Memang jarak parkiran ke kelasku itu cukup jauh, parkiran ada di bagian selatan sekolah, sedangkan kelasku ada di area utara sekolah. Sangat melelahkan jika tak ada teman bicara. Oleh karena itu, Ambon pasti menungguku di parkiran, untuk menemaninya menuju ke kelas, suaranya yang keras dan lantang itu pasti bergema saat lubang hidungku mulai terlihat dalam pandangannya.

Hal yang pertama kali Ambon tanyakan padaku selalu sama setiap harinya, dia pasti menanyakan perihal tugas, walaupun sebenarnya tak ada tugas sekalipun, dia tetap akan menanyakannya padaku, sekedar memastikan.

Selama perjalanan ke kelas, Ambon tak berhenti mengoceh, segala hal dia bicarakan, apalagi jika berpapasan ama cewek cantik, pasti langsung dia banding-bandingkan sama mantannya yang ada di Papua. Ambon adalah anak kelahiran Papua, dia menetap disana sampai SMP, baru pindah ke Jawa saat SMA. Walaupun begitu, dia malah mempunyai lebih banyak teman jika dibandingkan denganku. Wajar saja karena aku orangnya agak pendiam, jarang bicara, kadang suka grogi juga. Berbeda dengannya yang lebih berani dan percaya diri, kadang tak punya malu.

"Wihhh Pak Bos datang" Ucap Ahmad, rivalku sejak awal masuk SMA. Ucapan itu menyambutku saat tangan ini akan membuka pintu kelas. Ahmad adalah satu-satunya orang yang tak mau kalah jika berdebat denganku, walaupun sekelas, kita tidak pernah akur, apalagi saat membahas tugas, tidak pernah sependapat, selalu adu argumen. Sambutannya hari itu tak kugubris sama sekali, kulanjutkan langkahku ke dalam kelas untuk segera mengistirahatkan pundakku yang mulai lelah menahan beban tas penuh buku. Seperti biasanya Ambon tidak ikut masuk kelas denganku, dia mampir dulu di bangku besi itu bersama Ahmad, bangku besi itu memang sering digunakan untuk tempat nongkrong karena letaknya persis di depan kelas, cocok untuk memantau jika ada guru yang akan masuk kelas.

Belum ada 3 menit aku sampai di dalam kelas, tampak Ahmad dan Ambon mulai masuk menyusulku, hal itu bertanda bahwa Guru sudah mulai terlihat berjalan ke arah kelasku, semuanya langsung memposisikan dirinya di tempatnya masing-masing. Suara decitan kursi mulai memenuhi ruangan, sangat berisik. Wajar saja, karena satu kursi untuk berlima, jadi suara maju mundur kursi itu selalu bergema.

Ruang kelasku memang berbeda dengan ruang kelas lainnya, kursinya memanjang tanpa adanya sandaran, mejanya pun juga memanjang, berkaki besi, selalu berbunyi jika ada yang menggesernya sesenti. Di samping kanan dan kiri ruangan terdapat banyak sekali botol kaca, mereka tampak sedang berbaris, namun tak sedang melaksanakan upacara. Beragam foto tokoh sains terpajang mengelilingi ruangan, namun  yang kutahu hanyalah foto Albert Einstein saja, wajahnya yang tua dan berjenggot itu terlalu mudah untuk dikenali.

Bekas laboratorium kimia, itulah kelasku. Sejak tahun pertama masuk SMA kelasku memang tak diperhatikan, isinya penuh dengan anak yang bermasalah, selalu kacau, tak lebih dari itu. Mungkin bekas laboratorium ini adalah gambaran dari kelasku saat itu, kelas buangan. Miris memang, tapi ya begitulah keadaannya, Kepala Sekolah berkata jika kelasku hanya sementara berada disitu, tapi kenyataannya kami hidup disitu selama 2 semester penuh, tak diberi harapan, hanya diberi ucapan yang tak lebih dari sebuah kebohongan. Berulang kali wali kelasku meminta untuk pindah ruang. Sabar, begitu balasnya.

Kami pun mencoba menerima keadaan, keluh kesah memang pasti ada, tapi pada akhirnya semua mulai terbiasa. Pembelajaran dilakukan secara normal, ya walaupun saat ulangan semuanya udah nggak normal lagi, karena peluang untuk menyontek semakin besar, tinggal tengok dikit langsung kelihatan semua lembar jawab teman sebelah. 

Begitulah hari hariku di SMA kala itu. Aku berharap menemukan sensasi yang baru, namun sampai saat itu tak kunjung juga kutemukan.

To Be Continued

0 Response to "My Memory : My First Novel"

Posting Komentar

*Berkomentarlah sesuai dengan isi postingan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel