Kisah Hero Edith: Sang Primal Warden Pelindung Celestial Palace - Teh90blog

Kisah Hero Edith: Sang Primal Warden Pelindung Celestial Palace

Kisah Hero Edith

Pada masa di mana dunia baru saja diciptakan, para Ancient One membangun Celestial Palace di atas Sanctum Island di Sea of Hope. Pulau tersebut merupakan bagian dari sebuah gunung berapi bawah laut, bebatuan serta karang tersebar di sekeliling pulau, perairan di sekitarnya diselimuti oleh kabut tebal, yang menyebabkan karamnya banyak kapal yang melintas.

Terpencil dan tanpa gangguan, pulau tersebut adalah lokasi yang ideal untuk menemukan keajaiban - keajaiban kuno. Konon katanya, para Ancient One membangun kuil - kuil dan pusat industri dengan kemampuan serta teknologi mereka yang luar biasa di pulau tersebut. Ketika Celestial Palace mulai berfungsi, mekanisme dari kuil - kuil di pulau tersebut menerima gelombang energi dari istana, yang akhirnya membuatnya bersinergi dengan istana di atas langit.

Sebelum Endless War pecah, para Ancient One berusaha untuk mengendalikan rakyat di Land of Dawn. Mereka mengirimkan Kaja dan Uranus untuk menahan para Dewa Iblis serta memenjarakan mereka di Temple of Thunder di Sanctum Island, dimana seorang pemimpin yang setia kepada Ancient One akan mengendarai Mecha Guard-nya yang dijuluki dengan nama "Phylax" untuk mengawasi para tahanan tersebut.

Phylax memperoleh tenaga dari Primal Lightning, sebuah sihir unik yang dapat mengendalikan petir dengan kekuatan Ancient One. Primal Lightning hanya bisa digunakan oleh makhluk yang diciptakan oleh para Ancient One, diantaranya yaitu Kaja dan Uranus yang berada di Celestial Palace, serta seorang Gadis di Sanctum Island bernama Edith. Dia menerima karunia keabadian dan kekuatan suci dari para Ancient One untuk menghukum para tahanan dengan Primal Lightning. Mendengar namanya saja dapat membuat Dewa Iblis yang paling kuat gemetar ketakutan. Akan tetapi, setelah Endless War pecah, para Ancient One menghilang dengan menggunakan Twilight Orb untuk menyegel cahaya dan kegelapan. Edith, Sang Primal Lightning Warden yang abadi kini tertidur lelap seiring menghilangnya para tuannya hingga beratus ratus tahun setelahnya, tanpa ada satupun yang bisa membangunkannya.

Pada suatu ketika, terdapat sebuah kapal yang karam di dekat Sanctum Island, beberapa orang yang selamat dari kapal yang karam itu pun mulai merangkak ke bibir pantai dan sadar bahwa mereka kini terdampar di sebuah pulau. Mereka pun berusaha untuk bertahan hidup di pulau yang tandus itu, banyak dari mereka yang mulai menjelajahi seisi pulau, namun tak ada satupun sumber daya yang mereka temukan. Beberapa hari setelahnya, terdapat sebuah gempa bumi yang dahsyat yang akhirnya mulai menampakkan reruntuhan dari sebuah kuil. Reruntuhan ini tertimbun jauh di dalam lembah dan terbakar oleh sambaran petir. Salah satu dari mereka yang meruapakan seorang penambang besi pun mulai penasaran dengan tempat tersebut, dengan penuh keberaniannya dia pun mencoba melangkah masuk ke dalam tempat tersebut, namun bukannya menemukan sebuah sumber daya, dia malah menemukan seorang gadis berambut pirang yang terbaring di tengah - tengah puing bangunan tersebut. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung menyelamatkan gadis itu karena tempat tersebut sangat rawan sekali terkena sambaran petir.

Pria tua itu memudian membawa gadis itu kembali ke desa nelayan di pinggir laut. Karena cedera di kepalanya, gadis tersebut hanya dapat mengingat namanya, Edith. Pria tua tersebut mengangkatnya menjadi anaknya, dan mereka pun akhirnya tinggal bersama di desa kecil tersebut. Edith sangat disayang oleh ayah angkatnya, dia dirawat dengan sepenuh hati sehingga dia tumbuh sebagai gadis yang baik hati. Edith dapat berjalan - jalan di desa ketika dia tidak membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, namun terdapat satu peraturan yang tidak boleh Edith langgar, yaitu bahwa dia tidak boleh pergi ke daerah dekat lembah karena ayah angkatnya memiliki firasat bahwa suatu hari dia akan kehilangan anaknya disana.

Dikarenakan Edith hidup dengan penuh perhatian, kini dia akhirnya mulai bosan. Seringkali Edith memandang ke Celestial Palace di atas, para penduduk desa berkata bahwa itu adalah istana para dewa, dan terkadang dia dapat melihat manusia setengah burung yang terbang di langit dengan membawa cambuk petir. Akan tetapi, setiap kali Edith melihat mereka, suatu perasaan yang tidak nyaman selalu muncul di dalam hatinya, karena masa lalunya yang terlupakan sepertinya terhubung dengan petir tersebut. Oleh karena itu, dia selalu berlari kembali ke rumah dan menuju pelukan hangat ayah angkatnya yang menenangkannya sambil menepuk punggungnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Quote Edith

Sepuluh tahun pun telah berlalu, dan sang pria tua itu kini menjadi semakin lemah. Semua anak - anak lain tumbuh dewasa, namun Edith tidak demikian, badannya seakan tak pernah menua dan tenaganya pun tak berubah sedikitpun, dia masih semuda ketika ditemukan untuk pertama kalinya. Ayah angkatnya yang telah tua sudah tidak mampu mengerjakan pekerjaan fisik yang membuatnya melanggar peraturannya sendiri, yaitu membawa Edith untuk mencari rongsokan besi di reruntuhan dasar lembah.

Setelah gagal menemukan apa pun di luar, Edith dan ayahnya mengambil resiko dan masuk ke dalam kuil. Semakin dalam mereka berjalan, Edith merasa bahwa ingatannya semakin pulih, dan tiba - tiba petir menyambar dengan kuatnya ketika pedang raksasa terbang ke arah ayahnya. Dengan cepat Edith langsung berlari ke depan dan menghentikan pedang - pedang tersebut dengan kekuatannya, membuatnya jatuh ke tanah dan membelah bebatuan dengan petirnya. Di tengah api dan debu, sesosok Elemental Giant dengan baju zirah keemasan muncul di depan Edith.

"Kamu meninggalkan tugasmu, Edith!" Kata sosok itu dengan tegas.

Ternyata itu adalah Uranus, pelindung Celestial Palace yang dulu Edith kenal. Ingatannya pun mendadak langsung pulih kembali dan memenuhi pikirannya, memori tentang para Ancient One, Priest dan Priestess, semuanya sudah dapat dia ingat dengan jelas. Begitu banyaknya memori masa lalunya yang kembali membuat Edith merasa bingung, dia mencoba menolak itu semua namun tak pernah bisa dia lakukan.

"Enyahlah, penyusup!" Teriak Uranus kepada ayah angkat Edith sambil menyerangnya dengan pedang yang langsung beterbangan dengan cepatnya.

Akan tetapi, sebelum pedang tersebut mengenai ayah angkat Edith, sebuah robot yang besar datang, menepis semua serangan tersebut dengan mudahnya, robot tersebut ternyata adalah "Phylax" yang datang atas panggilan Edith yang memorinya kini sudah pulih.

"Biarkan ayahku pergi, atau semuanya akan berakhir disini" Kata Edith yang kini sudah berada dalam tubuh Phylax.

"Pengkhianat!" Teriak Uranus dengan penuh amarah.

Pertarungan pun tidak terelakkan, keduanya langsung mengeluarkan serangannya dengan dahsyat, raungan petir bergema di pegunungan ketika kilat dan petir saling menyambar, menghancurkan pilar dan patung - patung batu yang berada di sekitar area tersebut.

Quote Edith

Ketika Edith dan Uranus bertarung, seorang Pelindung Celestial Palace yang lain, yaitu Kaja, mengepakkan sayapnya dan turun ke reruntuhan tersebut.

"Hentikan pertarungan bodoh ini! Tidakkah kalian sadar bahwa Celestial Palace sedang dalam bahaya?!" Teriakan Kaja tersebut langsung menghentikan pertarungan dengan cepat.

Mereka akhirnya sadar bahwa energi dari kota suci itu sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak lama kemudian, bongkahan - bongkahan batu dan bangunan mulai berjatuhan dari langit, dalam sekejap Celestial Palace yang megah mulai runtuh dengan cepat. Dikarenakan istana tersebut runtuh, kuil di Sanctum Island tidak dapat menerima lagi energi yang berasal dari atas langit, dan para Dewa Iblis yang disegel akhirnya mulai melarikan diri dengan mudahnya. Uranus memberikan perintah kepada Kaja serta dirinya untuk memperbaiki segelnya, sementara Edith diperintahkan untuk menangkap para Dewa Iblis yang kabur. Kaja dan Uranus tinggal di lembah tersebut untuk menjaga para Dewa Iblis lainnya, sementara Edith mengendarai "Phylax" untuk membawa Ayahnya pulang terlebih dahulu dengan aman.

Ketika Edith menatap mata ayahnya yang ketakutan dan gemetaran, dia tidak dapat lagi menahan isak tangis yang kini sudah mulai membasahi kedua pipinya. Setelah sepuluh tahun tinggal bersama keluarganya, dia bukan lagi Primal Warden yang dingin dan kejam, sebaliknya, dia tumbuh menjadi gadis biasa yang manja serta baik hati kepada semua orang.

"Aku adalah anak tunggalnya, harapan masa depannya. Bagaimana cara dia hidup jika aku pergi sekarang?" Kata Edith dalam hati sembari sesekali mencoba menenangkan kondisi ayahnya untuk yang terakhir kalinya.

Land of Dawn sedang menghadapi bahaya baru karena runtuhnya Celestial Palace, dan Edith harus memenuhi tugasnya sebagai Primal Warden untuk memburu semua Dewa Iblis yang kabur.

"Selamat tinggal, Ayah! Percayalah padaku, aku akan kembali suatu hari nanti, aku janji!" Ucap Edith sambil memeluk ayahnya dengan erat.

Edith mengendarai Phylax dan langsung terbang ke Land of Dawn. Semenjak itu, banyak orang di Land of Dawn berkata bahwa mereka sesekali melihat Mecha Guard raksasa. Setiap kali seorang Dewa Iblis mengacaukan dunia, Edith dan Phylax akan langsung tiba disana dengan sekejap, menghukum seluruh kekuatan jahat tanpa ampun.

Disela waktu luangnya, Edith akan keluar dari Phylax untuk memandang ke arah timur laut yang jauh. Di balik cakrawala, pegunungan, sungai, dan laut yang menghalangi pandangannya, Edith masih percaya bahwa seorang pria tua di pulau terpencil itu akan selalu menatap ke arahnya dengan perasaan rindu yang mendalam.

~Tamat.~


KATA - KATA EDITH

I am the priestess of Primal Lighting, the hunter of all the evil gods
Aku adalah pendeta dari Primal Lightning, pemburu dari semua Dewa Iblis

Ancient Ones, lend me your strength
Ancient Ones, pinjamkan aku kekuatanmu!

My home is over the rainbow
rumahku di atas pelangi

Let's finish this, I must not exhaust my friend
Mari selesaikan ini, aku tidak akan membuat temanku lelah

Lightning will strike, those who lie
Petir akan menyambar kepada mereka yang berbohong

Lightning clears the thickest darkness
Petir dapat menghilangkan kegelapan yang paling pekat

Vile creatures wield to the Ancient power!
Makhluk keji, menyerahlah kepada kekuatan Ancient!

Away from this land, evildoers!
Pergi dari pulau ini, iblis jahat!

When peace returns, I'll also return to my home
Ketika perdamaian kembali, aku akan pulang ke rumah

Family bonds can't be unbreakable, I learned that from my father
Ikatan keluarga tidak dapat dipatahkan, aku mempelajarinya dari ayahku

My duty is to hold evil in check
Tugasku adalah melawan kejahatan

Human emotions are beautiful, and powerful too
Emosi manusia itu indah dan kuat

Wow! This age has interesting fashion
Wow! Zaman ini memiliki fashion yang menarik

It still feels funny to have Ancient memories
Ini masih terasa lucu ketika mempunyai ingatan tentang Ancient

When lightning strikes, one can hear the heavens furious roar
Ketika petir menyambar, seseorang dapat mendengar langit mengaum dengan penuh amarah

Lightning has striking beauty. doesn't it?
Petir menyambar dengan indah, bukan begitu?

I used to fight for the Ancient Ones, now I also fight for my home
Aku dulu bertarung untuk Ancient One, sekarang aku juga bertarung untuk rumahku

Enemies coming, Phylax activated
Musuh datang, Phylax diaktifkan

Everyday I pay to the Ancient Ones, please, bless my father
Setiap hari aku bertugas kepada kepada Ancient One, tolong, ampuni Ayahku

Sometimes I wonder, what if I'm still that little girl?
Terkadang aku berpikir, bagaimana jika aku masih menjadi gadis kecil?

Water creatures smell bad, but my father likes them
Makhluk air berbau tidak sedap, namun ayahku menyukainya

Ultimate

Meet your end!
Temui ajalmu!

Heaven's wrath!
Kemarahan surga!

Death

Now be reborn... ughh
Sekarang lahirlah kembali... ughh

Father.... wait for me
Ayah... tunggu aku

***

Sekian pembahasan saya terkait kisah hero Edith. Apabila ada dari kalian yang menginginkan pembahasan kisah hero Mobile Legends lainnya, silahkan tulis saja di kolom komentar.

Jangan lupa untuk selalu kunjungi teh90blog.com, karena blog ini akan terus memberikan info yang menarik terkait game Mobile Legends.

Terima kasih.

0 Response to "Kisah Hero Edith: Sang Primal Warden Pelindung Celestial Palace"

Posting Komentar

*Berkomentarlah sesuai dengan isi postingan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel