5 Faktor Utama Tutupnya Game Lokapala, Kalah Saing Sama ML? - Teh90blog

5 Faktor Utama Tutupnya Game Lokapala, Kalah Saing Sama ML?

5 Faktor Utama Tutupnya Game Lokapala

Lokapala, game yang awalnya digadang - gadang sebagai game MOBA pertama buatan Indonesia, secara mengejutkan harus menutup operasionalnya secara sementara mulai 19 Juni 2025 lalu.

Sebenarnya game ini nggak benar - benar ditutup, operasionalnya hanya diberhentikan secara sementara, tapi tetap saja tidak ada tanggal pasti sampai kapan game ini dirilis kembali.

Satu - satunya informasi yang ada adalah dari pihak developer-nya yang hanya bilang bahwa mereka akan kembali dengan versi yang lebih baik.

Tapi hmm benarkah begitu? Banyak yang skeptis sebab game ini memiliki track record yang cukup buruk selama masa perilisannya.

Terus, apa sih sebenarnya faktornya yang bikin operasional dari game Lokapala ini sampai harus ditutup "sementara"?

Tanpa berbasa - basi lagi, mari langsung saja kita masuk ke dalam pembahasannya berikut:


1. Kurang Improvement

Kurang Improvement

Lokapala dirilis secara global sejak 20 Mei 2020, yang artinya game ini sudah berumur 5 tahun lebih. Namun, dari 5 tahun tersebut, tidak ada yang berubah secara signifikan dari game ini.

Lokapala berani mengusung genre MOBA, dan seperti yang udah kalian semua tahu, game MOBA adalah game yang paling sering melakukan improvement hampir setiap bulan, baik itu merilis hero baru, memperbaiki kualitas map, revamp hero lama, ngasih skin yang banyak, dll.

Namun, di Lokapala beragam improvement tersebut sangat jarang dilakukan. Bahkan, struktur fundamental dari game MOBA seperti tampilan map dan balancing hero kurang mendapat perhatian dari pihak developer-nya.

Yang paling krusial di bagian map sih. Sejak awal rilis, game ini sudah dikritik karena menampilkan map yang gelap. Namun bukannya diperbaiki, mereka malah berasalan bahwa map yang bertema gelap sengaja diberikan sebab latar ceritanya berada di masa pasca apocalypse

Yakali kita dipaksa main di map yang gelap hanya karena latar dunianya yang pasca kiamat. Padahal esensi dari game MOBA itu bukan di lore-nya saja. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu pengalaman bermain yang immersif, dan sayangnya hal tersebut tak bisa kalian dapatkan di Lokapala.

Percuma kan lore-nya bagus tapi waktu main skill hero musuhnya nggak kelihatan.


2. Tidak Menerima Kritik dari Pemain

Sudah saya singgung di poin sebelumnya kalau developer dari game Lokapala ini kurang mendengarkan kritik dari para pemain. Map-nya gelap? Ya bodoamat, penting sesuai sama ceritanya.

Nggak hanya soal map, dari dulu player udah mengeluhkan tentang lokasi dari objektif utama kayak turtle dan lord yang letaknya jauh di pinggir map. Tapi sampai game ini ditutup pun nggak ada perubahan sama sekali.

Iya sih punya konsep yang berbeda dari game MOBA lain tuh bagus, tapi ya nggak terus ngasal gini. Player udah kritik pun kayak nggak di dengar sama sekali, yaudah makanya game-nya perlahan mulai sepi.

Yang paling sering di kritik tuh soal fitur recall dalam game ini yang justru dijadiin sebagai battle spell. 

Padahal, kita semua tahu kan betapa krusialnya fitur recall di game MOBA, dan di Lokapala ini fitur tersebut malah dijadiin battle spell doang karena udah ada fitur lain bernama wahana yang menurut saya juga dari segi visual dan mekaniknya saja masih sangat buruk.


3. Adanya Masalah Internal

Beberapa bulan sebelum operasional dari game ini diberhentikan, sempat ada rumor yang mencuat ke publik bahwasannya Anantarupa Studio yang merupakan developer dari game Lokapala terlambat dalam melakukan pembayaran gaji kepada karyawannya pada November 2024. 

Dilansir dari situs web Edarinfo, situasi itu semakin diperburuk pada Desember 2024, sebab pihak manajemen mulai menghentikan kepesertaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan para pekerja secara sepihak.

Tentu aja publik pun dibuat geram akan hal itu, sebab game MOBA yang katanya karya anak bangsa ini justru malah menelantarkan para pekerjanya yang merupakan anak bangsa juga.

Udah dikasih kritik dari para pemainnya gak digubris, pas game-nya sepi gaji karyawannya terus nggak dibayar, makanya wajar jika sekarang game-nya tutup. (walaupun aslinya belum tutup juga, tapi anggap aja udah tutup soalnya kemungkinan rilis lagi tuh udah minim banget, hampir ke arah mustahil).


4. Marketingnya Buruk

Sejak awal Lokapala dirilis, hal yang paling di gembor - gemborkan dari game ini adalah "karya anak bangsa".

Iya sih emang bagus kok harus ngasih tau kalo ini game lokal. Tapi mbok ya dibarengin sama kualitas yang bagus juga gitu lho.

Nggak usah ngomongin kualitas dulu deh, marketing-nya aja dulu dibenerin. Soalnya marketing dari game ini pun sama buruknya dengan kualitas game-nya.

Padahal, dengan embel embel game karya anak bangsa itu, Lokapala harusnya bisa membujuk para streamer game di indo buat mainin game ini, atau bikin kerja sama gitu kek.

Tapi faktanya game ini malah fokus di esport-nya langsung. Tiap bulan rutin ngasih turnamen, padahal komunitasnya aja belum berkembang.

Udah salah fokus, game-nya nggak improve, marketing-nya jelek, kelar dah tuh.

Kan developer-nya masih kecil bang

Developer yang kecil kalau niat ngembangin game-nya pasti kelihatan kok progresnya.

Lihat aja perjalanan Mobile Legends dulu tuh, dari yang awalnya dikatain game burik, MOBA kok analog, plagiat game lain, sampai akhirnya sekarang menjadi game MOBA yang sukses banget khususnya di indo.

Perjalanannya panjang emang, tapi progresnya tuh kelihatan. Beda jauh sama Lokapala ini yang waktu rilisnya aja udah telat, eh abis itu developer-nya nggak ngasih update yang signifikan ke game-nya.


5. Kenapa Harus MOBA?

Lokapala Game MOBA Pertama dari Indonesia

Nah ini nih yang menurut saya menjadi faktor paling gede yang bikin Lokapala susah berkembang. 

Bukannya anti game MOBA ya, saya sendiri juga udah aktif main Mobile Legends sama Wild Rift selama bertahun - tahun kok.

Yang jadi masalah adalah pilihan game MOBA di platform mobile tuh udah terlalu banyak. Jadi kalau mau narik pemain buat mainin Lokapala ya tentu bakal susah.

Mau MOBA yang populer di Indo? Udah ada ML; mau yang smooth dan full mekanik kayak MOBA di pc? Udah ada Wild Rift; mau yang skin-nya mewah - mewah? Ada HOK.

Pilihannya tuh udah banyak banget, dan nggak ada ruang bagi game baru kayak Lokapala ini buat bersaing. Ya mau bersaing kayak gimana coba, dari segi kualitas aja pasti udah timpang banget.

Saran saya nih buat Anantarupa Studio kalau baca artikel ini. Tolong egonya di turunin, kita semua sebenarnya percaya kalian bisa bikin game yang bagus, tapi sebisa mungkin persiapannya harus mateng sebelum game-nya dirilis ke publik.

Oiya, sama satu lagi, DENGERIN KRITIK DARI PEMAIN, udah itu aja ehehehe.

***

Itulah dia 5 faktor utama tutupnya game Lokapala.

Maaf kalau isinya agak personal, karena harapan saya dari dulu tuh ada setidaknya satu game buatan indo di mobile yang bisa mendunia gitu.

Soalnya player base buat game mobile di negara ini tuh sangat tinggi, dan sayang rasanya jika player base yang tinggi tersebut malah mainin game luar semua.

Apapun yang Anantarupa Studio sekarang lakuin, semoga mereka bisa merilis kembali game Lokapala ke versi yang lebih baik, kalo bisa sih ganti genre sekalian biar fresh gitu.

Lalu kalau dari kalian sendiri gimana nih? Apa pesan dan kesan dari kalian buat game Lokapala? Beritahu saya di kolom komentar yaa.

Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi menarik seputar dunia game.

Terima kasih.

0 Response to "5 Faktor Utama Tutupnya Game Lokapala, Kalah Saing Sama ML?"

Posting Komentar

*Berkomentarlah sesuai dengan isi postingan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel