Dangerous (2021) Film Review: Tidak Lebih Berbahaya dari Judulnya? - Teh90blog

Dangerous (2021) Film Review: Tidak Lebih Berbahaya dari Judulnya?

Dangerous (2021) review

Cukup menarik melihat film ini disutradarai oleh David Hackl yang dulu menangani salah satu film dalam franchise Saw, setahu saya Saw IV atau Saw V gitu, udah lupa juga soalnya :v 

Pokoknya, David Hackl ini dulunya pernah menjadi sutradara dalam salah satu series Saw sehingga ekspektasi saya dalam film buatannya tahun ini atmosfernya mungkin bakal tak jauh beda dari film Saw buatannya dulu. Apalagi mengingat film ini bakalan nampilin karakter utama yang punya jiwa psikopat, mirip lah ama John Kramer.

Namun, itu semua hanya sebuah ekspektasi saja, pasalnya film Dangerous buatan David Hackl yang baru rilis pada 5 November lalu ini menurut saya masih kurang memuaskan. Akan tetapi, sebelum menjelaskan alasan dibalik opini saya tersebut, mungkin terlebih dahulu simak sinopsisnya dulu lah ya.

Film Dangerous menceritakan tentang Dylan Forrester, seorang pria yang mengidap penyakit kepribadian antisosial yang membuatnya tak memiliki rasa empati dan belas kasih. Akibat penyakitnya tersebut, Dylan akhirnya melakukan banyak sekali kejahatan seperti percobaan pembunuhan, penyiksaan, dll hingga akhirnya dia diincar oleh Agent Shaughessy, seorang agen F.B.I yang berniat untuk menjebloskannya dalam penjara.

Dylan sebenarnya juga sedang berusaha untuk menjadi normal. Dia menjalani pengobatan dengan Dr. Alderwood, seorang ahli terapis yang siap sedia menangani kondisinya selama 24 jam. Semua proses penyembuhannya berjalan dengan normal, sampai pada akhirnya rahasia terkait kematian adiknya mulai terungkap.

Dari awal Dylan memang sudah digambarkan sebagai seorang yang jahat, penonton seakan sudah dikasih clue jika orang yang menjadi pemeran utama dari film ini merupakan karakter antagonis. Bagaikan bumi dan langit, adik kandung Dylan, Sean, merupakan seorang ilmuwan jenius yang menjadi kebanggaan keluarganya, dia bahkan mampu membeli pulau pribadi yang kemudian menjadi tempat tinggal terakhirnya. Dikarenakan Dylan merupakan seorang kriminal, maka dia tidak diterima saat datang ke pemakaman adiknya, dia bahkan diusir oleh Ibunya sendiri supaya tidak menimbulkan kekacauan di acara sakral tersebut. Akan tetapi, dibalik harumnya nama Sean, ternyata terdapat suatu hal yang disembunyikannya yang akhirnya membuat keluarga tersebut berada dalam bahaya.

Mengetahui bahwa keluarganya diancam, Dylan kini harus dihadapkan pada situasi yang sulit, di lubuk hatinya dia ingin menjadi normal, namun sisi lain dirinya mengatakan bahwa dia harus membunuh semua orang yang mengganggu keluarganya. Film ini secara garis besar sebenarnya telah berhasil dalam menggambarkan seorang yang antisosial. Akting dari Scott Eastwood yang memerankan Dylan memang patut diacungi jempol, sepertinya dia sudah bekerja keras untuk mendalami karakter dari Dylan Forrester ini. Akan tetapi, yang sangat sayangkan di film ini adalah minimnya adegan action. Padahal, konfliknya sendiri sudah cukup menarik, dengan menampilkan berbagai pembunuh bayaran sebagai karakter antagonis, namun semuanya terkesan sangat biasa aja dalam pertarungan, nggak ada spesialnya gitu, seperti gampang banget buat dikalahin.

Bahkan, final fight-nya pun terkesan tidak emosional, adegan bertarungnya sangat singkat dan tidak terkonsep dengan cukup baik sehingga saya yang menontonnya kayak ngerasa biasa aja gitu. Saya tidak tau apakah David Hackl emang lebih memfokuskan film ini pada genre mystery-nya saja sehingga porsi adegan action-nya emang dibuat sangat minim, atau mungkin karena Scott Eastwood tidak dapat beradegan action dengan cukup baik. Yang pasti, film ini menghilangkan potensi yang besar pada karakter utamanya yang seorang antisosial. Harusnya kan kalo orangnya antisosial geludnya bakalan sadis, kan dia nggak punya rasa empati, jadi harusnya bisa lebih brutal daripada ini.

Ya kan dia sudah menjalani pengobatan, mungkin aja emosinya udah bisa dikontrol?
Kalaupun Dylan sudah bisa mengontrol emosinya sejak awal, seharusnya dia tidak perlu membunuh Blanchard yang merupakan salah satu anggota dari pembunuh bayaran tersebut. Jadinya kan Dylan ini kayak labil gitu, sejak awal dah nggak ngebunuh orang, eh pas di pertengahan akhirnya ngebunuh orang juga. Walaupun nanti akhirnya dia juga memperoleh ijin dari terapisnya buat kembali menjadi dirinya yang dulu, namun itu tidak membantu sama sekali karena ujung - ujungnya adegan geludnya kek beberapa doang, kayak percuma aja gitu dia kembali menjadi seorang pembunuh tapi hanya beberapa menit doang sebelum ending. 

Namun, terlepas dari semua kekurangannya itu, Dangerous masih menjadi film yang cukup bagus untuk ditonton, alur ceritanya yang ringan untuk diikuti serta pengambilan scene-nya yang cukup menarik membuat saya yang menontonnya tidak merasa bosan sama sekali. Film ini juga tidak menampilkan berbagai scene yang sadis sehingga aman buat ditonton bareng sama keluarga.


Score

5/10

Score 5 saya berikan berkat minimnya adegan action yang harusnya menjadi daya tarik utama dari film ini mengingat karakter utamanya yang merupakan seorang antisosial. 

Overall, Dangerous masih oke buat kalian yang menginginkan film genre mystery dengan cerita yang nggak ribet serta nggak ada adegan berdarahnya. Akan tetapi, buat kalian yang mengharapkan adegan action yang bagus, mending tonton film yang lain saja atau kalian bisa simak review film lain yang ada di blog ini, contohnya seperti review film Nobody (2021).

***

Sekian yang dapat saya sampaikan terkait review film Dangerous. Jika ada kritik maupun saran dari kalian, silahkan tulis saja di kolom komentar.

Jangan lupa untuk selalu kunjungi teh90blog.com untuk mendapatkan konten review film menarik lainnya.

Terima kasih. 

0 Response to "Dangerous (2021) Film Review: Tidak Lebih Berbahaya dari Judulnya?"

Posting Komentar

*Berkomentarlah sesuai dengan isi postingan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel