Dune (2021) Film Review - Teh90blog

Dune (2021) Film Review

Dune (2021)

Antusiasme yang tinggi tentang film Dune akhirnya membawa saya untuk ikut menikmati alur ceritanya yang bahkan pada awalnya saya nggak tau ini film bercerita tentang apa. Dune memang menyajikan berbagai hal yang baru, yang belum pernah ada di film lainnya, namun dengan plot yang terkesan sedikit lambat. Yap, menurut saya gambaran besar Dune memang seperti itu, namun untuk hal yang lainnya, mari simak saja postingan ini sampai akhir.

Dune merupakan film fiksi ilmiah yang disutradarai oleh Denis Villeneuve, orang yang sama dibalik kesuksesan film Arrival dan Blade Runner 2049 pada tahun 2016 - 2017 silam. Mengingat track record film buatannya yang memiliki alur cerita sangat kompleks, maka tak heran jika ternyata formula tersebut kembali ia terapkan dalam Dune.

Mengadaptasi cerita dari novel karya Frank Herbert dengan judul yang sama, Dune mengisahkan tentang seorang ahli waris keluarga Atreides bernama Paul, diperankan oleh Timothée Chalamet, yang harus melakukan kewajibannya di planet paling berbahaya, yaitu planet Arrakis, untuk mendapatkan kehormatan dan memastikan kehidupannya di masa yang akan datang. 

Oiya, sebelum membahas tentang Paul, saya akan terlebih dahulu menjelaskan beberapa keluarga yang nantinya akan muncul dalam film Dune. Yang pertama adalah keluarga Atreides, dengan ayah Paul, Duke Leto, sebagai pemimpinnya. Istri dari Duke Leto, Lady Jessica, merupakan keturunan dari Bene Gesserit, yang diceritakan memiliki kemampuan untuk melakukan semacam hipnotis (Voice), yang dapat dia gunakan untuk mengambil alih kesadaran lawannya. Inilah yang menyebabkan mengapa Paul disuruh untuk menggunakan (Voice) untuk memaksa Ibunya mengambilkan air minum di scene awal film ini berlangsung.

Lalu ada keluarga Harkonen, yang diceritakan merupakan salah satu musuh bebuyutan dari keluarga Atreides. Keluarga ini dipimpin oleh Vladimir Harkonen yang memiliki ambisi untuk berkuasa dengan licik dan kejam. Vladimir Harkonen digambarkan dengan tubuhnya yang sangat gemuk hingga dia harus menggunakan alat khusus untuk terbang agar dapat bergerak dengan bebas. Orang kepercayaanya, Glossu Rabban, merupakan kepala komando yang bertugas memimpin pasukan untuk melakukan serangan. Keluarga ini telah menguasai planet Arrakis selama 80 tahun, sebelum akhirnya harus mundur berkat perintah dari Galactic Padishah. Keluarga Harkonen ini digambarkan dengan perawakan yang kekar dengan kepala plontos sehingga kesannya keluarga ini memang terlihat cukup mengerikan untuk dilawan.

Selanjutnya yaitu ada klan Fremen, klan asli planet Arrakis yang diceritakan merupakan penghuni asli dari planet tersebut. Fremen digambarkan dengan mata berwarna biru dengan baju khusus yang didesain untuk tahan dari panasnya planet Arrakis. Asal mula mata biru klan ini berasal dari paparan spice yang telah mereka konsumsi sejak lama. Spice ini merupakan sumber daya yang paling langka se-alam semesta yang membuat perjalanan antar galaksi dapat dilalui dengan cepat. Alasan ini juga yang menyebabkan keluarga Harkonen sampai betah menguasai planet Arrakis selama 80 tahun lamanya, karena selama itu juga keluarga Harkonen dapat memanen Spice dengan leluasa untuk kebutuhan mereka, sampai akhirnya datang keluarga Atreides untuk mengambil alih planet tersebut.

Konflik awalnya bermula ketika keluarga Atreides diperintahkan oleh Padishah Empire untuk menggantikan kekuasaan keluarga Harkonen di planet Arrakis. Sebenarnya, Duke Leto sebagai kepala keluarga Atreides memang telah merasa bahwa ini merupakan sebuah jebakan. Akan tetapi, dia akhirnya menyetujui perintah tersebut mengingat sumber daya planet Arrakis yang begitu besar. Berbeda dengan keluarga Harkonen yang memerintah dengan kejam, keluarga Atreides justru memperlakukan warga asli planet Arrakis dengan lemah lembut, sampai pada akhirnya muncul berbagai serangan yang mengancam keluarga Atreides.

Dengan durasinya yang cukup panjang, Dune memang memberikan plot cerita yang terkesan lambat, sehingga banyak dari kalian mungkin akan menganggap bahwa film ini sangat membosankan. Akan tetapi, mengingat Dune merupakan film adaptasi dari novel, sangat wajar jika ada banyak sekali karakter yang muncul sehingga film ini terkesan terlalu banyak bagian dalam hal pendalaman karakter. Selain itu, banyaknya pihak yang terlibat juga menjadi faktor lain mengapa film ini seakan sulit dipahami jika hanya menontonnya sekali saja.

Terlepas dari rumitnya cerita yang ditampilkan dalam film ini, Dune memiliki ciri khasnya sendiri dari film dengan genre sci-fi lainnya. Berbagai teknologi canggih yang tampil dalam film ini seakan memberikan kesan yang menarik untuk melihat bagaimana gambaran teknologi manusia di masa depan saat sudah bisa menjelajah galaksi. Yaa, konsepnya memang seperti Star Wars, namun Dune menampilkannya dengan lebih simple dan smooth sehingga lebih enak gitu buat dilihat. Film ini juga menampilkan monster cacing besar alaska yang sangat memorable banget bagi saya :v Namun jangan salah, monster ini tidak memakan ekor Sandy, namun melahap semua hal yang berbunyi di atas padang gurun planet Arrakis. Monster bernama Khai Hulud ini seakan menjadi medan magnet bagi saya untuk semakin bersemangat untuk menonton film Dune, asik aja gitu ngelihat cacing dengan ukuran jumbo yang dapat melahap bangunan apapun dalam sekali telan saja. 

Oiya, perlu kalian ingat juga bahwa film Dune terbagi ke dalam 2 part, yang rencananya part keduanya akan dirilis 2 tahun mendatang, yaitu di tahun 2023. Jadi, buat kalian yang kecewa kenapa ending-nya tidak memuaskan, ya tunggu aja dulu sampai tahun 2023 karena cerita dari film ini masih ada lanjutannya.

Score

8/10

Score 8 saya berikan kepada Dune, karena film ini berhasil menampilkan cerita yang sangat berbeda dari film genre sci-fi kebanyakan. Dune juga memiliki jalan cerita yang tidak mudah ditebak, semua karakter yang tampil dalam film ini seperti memiliki peluang yang sama untuk menemui ajalnya, kesan itulah yang membuat saya penasaran sehingga ingin melihat kelanjutan dari film Dune. Terlebih lagi, film ini juga menyajikan tampilan grafis yang sangat memuaskan sehingga seakan tak ada bosannya melihat beragamnya kondisi planet serta berbagai teknologi canggih yang muncul.

Kualitas akting yang ditampilkan juga tidak terlalu buruk. Akting dari Timothée Chalamet sebagai Paul Astreides terkesan tidak berlebihan sehingga membuatnya berhasil membawakan karakter seseorang yang harus menerima beban yang berat sebagai penerus keluarga Astreides sebagai keluarga terbesar yang kini ditugaskan untuk menguasai planet Arrakis.

***

Sekian yang dapat saya sampaikan terkait review film Dune. Jika ada kritik maupun saran dari kalian, silahkan tulis saja di kolom komentar.

Jangan lupa untuk selalu kunjungi teh90blog.com untuk mendapatkan konten review film menarik lainnya.

Terima kasih. 

0 Response to "Dune (2021) Film Review"

Posting Komentar

*Berkomentarlah sesuai dengan isi postingan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel